Hidup di Indonesia sering kali kita bersentuhan dan terkadang bertemu langsung dengan namanya "mitos". Percaya atau tidak percaya, mitos atau fakta pasti akan dikaitkan ketika kita dihadapkan dengan sesuatu yang secara nalar kadang ada diluar batas pemikiran kita.
Pun demikian dalam hal tempat kita menginap saat berlibur/berwisata. Banyak mitos-mitos yang kita sebenarnya tidak percaya tapi terkadang ketika kita menemuinya langsung membuat kita menjadi percaya. Di bawah ini akan menceritakan beberapa mitos yang sering kita dengar saat menginap di kamar hotel.
Kamar hotel sering menyimpan berbagai cerita dan kepercayaan yang berkembang dari pengalaman tamu, budaya lokal, hingga cerita yang beredar di internet. Mulai dari kamar nomor 13 yang dianggap membawa sial, cermin yang disebut memiliki kekuatan mistis, hingga anggapan bahwa kamar hotel tertentu pasti angker.
Sebagian cerita tersebut memang menarik untuk dibahas, tetapi tidak semuanya memiliki dasar fakta. Beberapa bahkan muncul karena kebiasaan industri perhotelan atau alasan praktis yang kemudian dianggap sebagai sesuatu yang misterius.
Berikut beberapa mitos kamar hotel yang paling sering dibicarakan dan fakta di baliknya.
1. Kamar Nomor 13 Pasti Angker
Ini merupakan salah satu mitos hotel yang paling populer, terutama di negara-negara Barat.
Angka 13 memang sering dianggap sebagai angka yang tidak beruntung. Karena sebagian tamu merasa tidak nyaman dengan angka tersebut, sejumlah hotel memilih tidak menggunakan nomor 13 pada lantai atau kamar mereka.
Namun, tidak adanya kamar atau lantai 13 bukan berarti tempat tersebut angker. Praktik tersebut lebih berkaitan dengan kepercayaan atau takhayul terhadap angka 13. Fenomena ini dikenal sebagai triskaidekaphobia, yaitu ketakutan terhadap angka 13.
2. Lantai 4 Selalu Dihindari karena Angker
Di sejumlah negara Asia, angka 4 memiliki konotasi negatif karena pengucapannya dalam beberapa bahasa Tionghoa terdengar mirip dengan kata yang berarti kematian.
Akibatnya, beberapa gedung dan hotel memilih menghindari angka 4 dalam penomoran lantai. Ada pula yang menggantinya dengan penamaan seperti 3A atau langsung melanjutkan ke lantai 5.
Namun, menghilangkan angka 4 bukan berarti lantai tersebut memiliki masalah mistis. Ini lebih berkaitan dengan budaya, persepsi tamu, dan keputusan pengelola gedung.
3. Kamar Paling Ujung Selalu Angker
Kamar yang berada di ujung lorong terkadang dianggap lebih menyeramkan karena biasanya lebih sepi dan jarang dilewati tamu.
Padahal, posisi kamar di ujung koridor merupakan bagian dari desain bangunan. Bahkan, kamar sudut atau corner room pada beberapa hotel justru dapat memiliki ruang atau pemandangan yang lebih luas.
Jadi, posisi kamar di ujung koridor tidak dapat dijadikan bukti bahwa kamar tersebut angker.
4. Semua Hotel Menyembunyikan Lantai 13
Tidak semua hotel menghilangkan lantai 13.
Praktik tersebut memang cukup umum di sebagian hotel, terutama di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, tetapi bukan aturan universal. Ada pula hotel yang tetap menggunakan lantai 13 seperti biasa.
Artinya, jika lift hotel Anda memiliki tombol 13, hal tersebut bukan sesuatu yang aneh.
5. Cermin di Kamar Hotel Bisa Menjadi “Portal”
Cermin sering muncul dalam cerita horor hotel. Ada kepercayaan bahwa cermin yang menghadap tempat tidur, terutama pada malam hari, dapat menjadi media munculnya sesuatu yang bersifat mistis.
Cerita seperti ini merupakan bagian dari kepercayaan dan budaya populer. Tidak ada dasar ilmiah yang menunjukkan bahwa cermin hotel dapat menjadi portal ke dunia lain.
Namun, jika posisi cermin membuat Anda tidak nyaman ketika tidur, menutupnya atau mengubah arah pandangan cermin tentu boleh dilakukan sebagai bagian dari kenyamanan pribadi.
6. Hotel Punya Kamar yang Sengaja Tidak Pernah Disewakan
Cerita tentang kamar yang dikosongkan karena pernah terjadi kejadian tertentu juga cukup sering beredar.
Memang mungkin saja sebuah kamar tidak tersedia untuk tamu karena alasan operasional, renovasi, perbaikan, atau pertimbangan manajemen. Tetapi hal tersebut berbeda dengan anggapan bahwa kamar tersebut sengaja dikosongkan karena alasan mistis.
Jadi, jangan langsung menyimpulkan alasan sebuah kamar tidak tersedia berdasarkan cerita yang beredar.
7. Seprai Putih Berarti Kamar Pasti Lebih Bersih
Warna putih pada linen hotel sering dianggap sebagai tanda bahwa kamar lebih bersih.
Ada alasan praktis mengapa banyak hotel menggunakan linen berwarna putih. Warna tersebut membuat noda lebih mudah terlihat dan memberikan kesan bersih serta seragam. Linen putih juga dapat diproses menggunakan metode pencucian yang sesuai untuk menjaga kebersihannya.
Namun, warna putih saja tidak membuktikan bahwa sebuah kamar lebih bersih daripada kamar dengan linen berwarna lain.
Kebersihan lebih ditentukan oleh proses housekeeping, pencucian linen, sanitasi dan pemeliharaan kamar.
8. Housekeeping Tidak Pernah Membersihkan Kamar Setiap Hari
Ada anggapan bahwa petugas housekeeping sengaja melewatkan kamar tertentu agar pekerjaan mereka lebih ringan.
Faktanya, frekuensi pembersihan kamar dapat berbeda berdasarkan kebijakan hotel, permintaan tamu, kondisi operasional, atau program lingkungan. Jadi, tidak semua hotel menerapkan pola housekeeping yang sama.
Menurut wawancara dengan pekerja industri hotel yang dirangkum The Washington Post, anggapan bahwa housekeeping selalu sengaja melewatkan pembersihan demi mengurangi pekerjaan tidak tepat.
Jika Anda ingin kamar dibersihkan atau membutuhkan fasilitas tertentu, cara paling aman adalah mengikuti prosedur hotel atau menghubungi housekeeping.
9. Semua Barang di Kamar Hotel Boleh Dibawa Pulang
Ini bukan mitos yang menyeramkan, tetapi merupakan salah satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi.
Tidak semua barang yang tersedia di kamar otomatis boleh dibawa pulang. Beberapa fasilitas memang disediakan sebagai perlengkapan tamu, sementara barang lainnya merupakan inventaris hotel.
Jika Anda tidak yakin apakah suatu barang boleh dibawa, tanyakan kepada pihak hotel. Hal ini juga dapat menghindarkan Anda dari biaya tambahan yang tidak terduga.
10. Kalau Merasa Kamar Hotel “Aneh”, Berarti Ada Sesuatu di Dalamnya
Perasaan tidak nyaman ketika pertama kali memasuki kamar hotel bisa terjadi karena banyak faktor.
Kamar yang sangat sunyi, pencahayaan redup, suara dari sistem AC, suara pipa air, suara lift, atau lingkungan baru dapat membuat seseorang lebih waspada.
Otak manusia juga cenderung mencari pola dan penjelasan ketika berada dalam lingkungan yang tidak familiar.
Karena itu, perasaan aneh tidak otomatis menjadi bukti adanya sesuatu yang mistis.
Jika benar-benar merasa tidak nyaman, langkah praktis yang dapat dilakukan adalah menyalakan lampu, memeriksa kondisi kamar, memastikan pintu terkunci, dan menghubungi resepsionis apabila ada masalah yang nyata.
Mengapa Mitos Hotel Mudah Berkembang?
Hotel merupakan tempat yang menarik untuk munculnya berbagai cerita karena tamunya datang dan pergi dari berbagai tempat.
Selain itu, tamu biasanya tidak mengetahui sejarah lengkap sebuah bangunan atau aktivitas yang terjadi di balik operasional hotel. Kondisi tersebut membuat cerita dari satu orang dapat berkembang menjadi legenda dari waktu ke waktu.
Media sosial juga membuat cerita semacam ini semakin mudah menyebar. Sebuah pengalaman pribadi dapat dengan cepat dianggap sebagai fakta umum meskipun belum pernah diverifikasi.
Karena itu, menarik untuk membedakan antara cerita, kepercayaan, pengalaman pribadi dan fakta yang dapat diverifikasi.
Jadi, Haruskah Takut Menginap di Kamar Hotel?
Tidak perlu menganggap setiap cerita tentang kamar hotel sebagai fakta.
Jika sebuah hotel memiliki lantai 4 atau 13, hal tersebut tidak menunjukkan bahwa kamar tersebut lebih berbahaya. Sebaliknya, jika sebuah hotel menghilangkan nomor tertentu, biasanya ada alasan budaya, psikologis, desain atau pertimbangan bisnis.
Yang lebih penting saat menginap adalah memperhatikan hal-hal nyata seperti keamanan pintu, kondisi kamar, jalur evakuasi, barang berharga, kebersihan dan aturan hotel.
Mitos boleh menjadi cerita menarik, tetapi keputusan saat traveling sebaiknya tetap berdasarkan informasi yang jelas dan dapat dipercaya. Karena pada prinsipnya berlibur itu ingin membuat pikiran lebih rileks bukan malah bertambah bebannya karena adanya mitos yang belum tentu sesuai dengan faktanya.

