Belakangan ini publik digegerkan oleh laporan penularan virus yang berasal dari hewan pengerat alias Tikus. Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof. dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D., memberikan tanggapan serius mengenai kemunculan Hantavirus di tanah air.
Beliau menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan, namun kewaspadaan lingkungan harus ditingkatkan secara drastis guna mencegah penyebaran yang lebih luas.
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), tercatak ada 23 kasus hantavirus di Indonesia sepanjang periode 2024 hingga Mei 2026. Sebagai pakar epidemiologi, Prof. Pandu Riono mengingatkan bahwa ancaman ini nyata karena manusia belum memiliki kekebalan alami terhadap patogen ini.
Jika penanganannya keliru, situasi ini berisiko menimbulkan dampak kesehatan publik yang signifikan. Berikut, 5 Hal Penting Mengenai Hantavirus Menurut Pandu Riono dan Kemenkes.
Highlights:
- Bukan Virus Baru: Hantavirus sudah lama dimonitor di Indonesia dan bukan penyakit yang baru muncul.
- Peringatan Mutasi: Pandu Riono menyoroti potensi wabah besar jika virus bermutasi antar-manusia.
- Vektor Utama Tikus: Penularan terjadi melalui droplet urine, feses, dan air liur tikus yang mengering.
- Tipe Kasus Indonesia: Berbeda dari kasus kapal pesiar MV Hondius, varian di Indonesia adalah tipe HFRS (Seoul Virus).
- Gejala Awal: Menyerupai flu biasa, meliputi demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, dan lemas.
1. Potensi Menjadi Wabah Jika Terjadi Mutasi Antar-Manusia
Hal paling krusial yang disampaikan oleh Prof. dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D. adalah mengenai batas penularan virus.
Saat ini, hantavirus di Indonesia mayoritas menyebar dari hewan ke manusia (zoonosis). Namun, ancaman epidemi yang sesungguhnya dapat terjadi apabila virus ini mengalami mutasi genetik yang memungkinkannya melompat dari manusia ke manusia secara cepat.
Ketiadaan imunitas kelompok (herd immunity) terhadap virus ini membuat skenario mutasi menjadi sangat berbahaya bagi populasi.
2. Karakteristik Penularan Lewat Partikel Kotoran Tikus
Masyarakat harus paham bahwa hantavirus tidak menyebar melalui droplet pernapasan seperti COVID-19. Penularan utama terjadi ketika seseorang menghirup udara atau debu yang telah tercemar oleh partikel urine, air liur, atau feses tikus yang mengering.
Kontak langsung antara kulit yang terluka atau menyentuh wajah setelah memegang benda yang terkontaminasi kotoran tikus juga menjadi jalur infeksi utama.
3. Perbedaan Varian Indonesia dengan Kasus Kapal Pesiar MV Hondius
Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa jenis yang ditemukan di Indonesia adalah tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul virus. Tipe HFRS ini menyerang fungsi ginjal.
Jenis ini berbeda dengan tipe Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru secara fatal seperti yang memicu karantina di kapal pesiar internasional MV Hondius baru-baru ini.
4. Deteksi Kasus Nyata di Beberapa Provinsi
Data resmi pemerintah menunjukkan infeksi ini sudah tersebar di sembilan provinsi, termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Yogyakarta.
Sepanjang awal tahun 2026, Dinas Kesehatan DKI Jakarta bahkan telah mengonfirmasi empat kasus dengan rincian tiga pasien sembuh dan satu orang masih berstatus suspek laboratoris. Berdasarkan total 23 kasus sejak 2024, dilaporkan ada tiga korban meninggal dunia.
5. Langkah Pencegahan Melalui Sanitasi Lingkungan
Rekomendasi utama dari Prof. Pandu Riono dan praktisi kesehatan adalah memutus rantai habitat tikus di pemukiman. Masyarakat diminta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area gudang atau langit-langit rumah yang rawan menjadi sarang tikus, dianjurkan pula yang terpenting – mencuci tangan.
Membasahi lantai sebelum menyapu kotoran kering sangat disarankan agar partikel virus tidak terbang dan terhirup ke dalam sistem pernapasan.
Tanya-Jawab Singkat
Apa itu Hantavirus menurut penjelasan Pandu Riono?
Hantavirus adalah kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat (tikus) yang dapat memicu infeksi saluran kemih, ginjal, atau pernapasan pada manusia. Prof. dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D. mengingatkan bahwa virus ini berpotensi memicu wabah luas jika terjadi mutasi yang mendukung penularan antar-manusia.
Bagaimana cara penularan virus hanta ke manusia?
Virus ini menular ketika manusia menghirup udara (aerasi) yang tercemar debu dari urine, air liur, atau feses tikus yang mengering. Penularan juga bisa terjadi melalui gigitan tikus atau menyentuh mata dan mulut setelah memegang benda yang terkontaminasi.
Apa saja gejala awal infeksi Hantavirus?
Gejala awal umumnya mirip dengan influenza, meliputi demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot parah (terutama di bagian paha dan punggung), lemas, serta mual muntah. Pada tipe HFRS, gejala dapat berlanjut pada gangguan fungsi ginjal akut.
Apakah Hantavirus di Indonesia sama berbahayanya dengan varian di luar negeri?Berdasarkan keterangan Kemenkes, varian di Indonesia didominasi oleh tipe HFRS (Seoul Virus) yang cenderung memiliki tingkat fatalitas lebih rendah dibandingkan tipe HPS (Andes Virus) yang ditemukan pada kasus fatal kapal pesiar internasional. Namun, kewaspadaan medis tetap harus diutamakan.







