Mitos Sate Gagak, Source, UangIndonesia.com

Ritual Telanjang di Pukul 3, Jadi Syarat Pesugihan Sate Gagak

Travelista – Pernahkah kalian mendengar pesugihan sate gagak? jadi secara teknis pesugihan ini adalah menjual sate burung gagak kepada mahluk halus genderuwo. Kenapa harus genderuwo? karena makhluk ini akan membayar dengan uang yang banyak demi mendapatkan setusuk sate burung gagak.

Kemudian, apakah dizaman yang secanggih ini, masih ada yang melakukannya? ternyata di pesisir pantai selatan jawa, wilayah Pandansimo, hingga hari ini masih sering dilakukan orang-orang disana. Meski maelakukannya masih secara sembunyi-sembunyi.

Sebut saja mereka yang melakukannya adalah pelaku. Jadi, pelaku yang berminat menajalani ritual sesat ini akan mempersiapkan semua persyaratan yang telah ditentukan oleh sang dukun. Diantaranya burung gagak hidup, arang berserta tungku untuk membakar gagak, air panas, pisau, tusukan sate, dupa atau kemenyan dan sebuah kotak besar untuk menaruh uang.

Oleh sang dukun yang bisa memfasilitasi ritual itu, diminta datang ke Pantai Pandasimo sekitar pukul 23:00. Sesampai ditepi pantai pencari pesugihan mulai mempersiapkan segalanya, mulai dari menyembelih burung dan membersihkan bulu-bulunya, hingga membuat sate dari daging gagak.

Usai dibakar, bau daging akan tercium ke mana-mana, di situlah awal tekad diuji. Karena, pelaku akan melihat sosok-sosok yang merikan bentuknya. Jika sampai pelaku mengucapkan ayat atau doa memohon perlindungan kepada tuhan maka ritual itu akan gagal total.

Baca juga: Misteri Stasiun Tugu yang Minta Tumbal, Berani Kesana?

Sebelum genderuwo datang, biasanya kawanannya ikut datang. Seperti pocong, kuntilanak, dan setan-setan lainnya. Pelaku harus bisa menahan diri untuk tidak lari dan tida boleh memberikan sate tersebut kepada sosok-sosok lain kecuali Genderuwo. Karena mereka tidak mempunyai uang.

Sosok Genderuwo, Kumparan.com

Ketika Proses ritual, pelaku harus telanjang sambil membacakan mantara yang telah diberikan sang dukun. Singkat cerita, saat memasuki pukul tiga, kawanan genderuwo datang, nah disitu pelaku harus melayani dengan baik. Satu tusuk itu bakal dihargai ratusan juta bahkan lebih.

Pesugihan ini boleh dikatakan aman karena tidak menggunakan tumbal penyembahan nyawa. Namun, tetap perbuatan sesat. Ritual pembakaran sate gagak itu biasanya menggunakan sarung, agar tidak terlihat oleh manusia lainnya.

Baca juga : Misteri Nyai Ronggeng di Terowongan Lampegan

Namun, cerita ini tak bermasuk untuk menyarankan, justru kami hanya menceritakan yang sebelumnya anda tak tahu. Intinya, apapun bentuknya yang berkerja sama dengan setan, itu termasuk perbuatan setan. Tuhan pun melarangnya, cari lah rezeki yang diberkahi oleh tuhan.

Travelista.id

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here