Travelista – Sungai Cisadane adalah sungai besar yang melintasi kota Tangerang. Selama dari dulu hingga sekarang, para pedagang Tionghoa memanfaatkan aliran sungai  dari pesisir Laut Jawa untuk berlayar masuk pedalaman ke daerah Tangerang. 

  1. Cisadane Kerajaan Pajajaran

Sebelum disebut Cisadane, sungai ini dinamakan Sadane. Karena dalam bahasa Sanskerta berarti “istana kerajaan” yang artinya Kerajaan Pajajaran dengan ibukota di Pakuan, Bogor.

Selanjutnya ada beberapa ahli mengakatan kata “sadhana” yang mengandung arti “jalan kebijaksanaan”. Karena pada era itu kerajaan yang menganut agama Hindu, sangat menghormati air sungai dari gunung sebagai sarana untuk membersihkan diri menuju jalan kebijaksanaan. 

Baca juga

Kemudian kata “ci” dalam bahasa Sunda yang berarti sungai, maka nama Ci Sadane atau Cisadane berarti sungai suci untuk menuju jalan kebijaksanaan yang berasal dari istana Kerajaan Pajajaran

Sebelumnya diberitakan bahwa Cisadane pada saat Hindu Kerajaan Pajajaran, Aliran Sungai Cisadane berasal dari anak-anak sungai yang berhulu di lereng Gunung Pangrango dan Gunung Salak di Bogor. Kemudian aliran Cisadane memasuki wilayah Bogor, lalu melintasi Kota Tangerang, kemudian bermuara di Tanjung Burung, dan membentang ke Laut Jawa. Panjang Sungai Cisadane dari hulu sampai ke hilir, sekitar 126 kilometer.

Kerajaan Pajajaran sendiri merupakan kerajaan yang menganut agama Hindu dan sangat menghormati air sungai dari gunung sebagai wadah untuk membersihkan diri menuju jalan kebijaksanaan. Keberadaan sungai cisadane sendiri menjadi suatu aspek yang penting bagi masyarakat hindu karena kebutuhan masyarakat dalam melakukan kegiatan spiritual.

Cisadane Pada Masa Kolonial

Pada abad ke-16, banyak kapal dagang kecil yang memasuki muara Cisadane di pesisir Laut Jawa untuk berlabuh ke Tangerang. Saat itu, daerah Mauk, Kedaung, Sewan, Kampung Melayu, dan Teluk Naga masih berupa rawa-rawa, sehingga muara Cisadane masih dekat Tangerang.

Raden Aria Soetadilaga diangkat menjadi Bupati Tangerang I dengan wilayah meliputi antara sungai Angke dan Cisadane. Kemudian terjadi sebuah perjanjian antara Kesultanan Banten dan Belanda. Tangerang menjadi kekuasaan kompeni. Isi perjanjian menyebut batas wilayah kekuasaan Belanda dan Kesultanan Banten adalah sungai cisadane itu sendiri.

Kemudian belanda merencanakan merobohkan bangunan-bangunan dalam pos karena hanya berdinding bambu. Kemudian bangunannya diusulkan diganti dengan tembok dan dijadikan sebuah Benteng. Setelah benteng selesai dibangun personilnya menjadi 60 orang Eropa dan 30 orang hitam. Yang dikatakan orang hitam adalah orang-orang Makasar yang direkrut sebagai serdadu kompeni, karena itulah benteng ini sebut dengan “Benteng Makassar” walaupun letaknya yang berada ditangerang.

Denah Benteng Tangerang

Benteng ini menjadi basis kompeni dalam menghadapi pemberontakan dari Banten. Orang-orang pada waktu itu lebih mengenal bangunan ini dengan sebutan ”Benteng”. Sejak itu, Tangerang terkenal dengan sebutan Benteng. Benteng ini sejak tahun 1812 sudah tidak terawat lagi. karena itulah pada saat ini kita tidak bisa meluhat bentuk asli dari benteng ini.

Belanda mengizinkan warga sekitar Benteng untuk membuka lahan pertanian di sekitar perairan Sungai Cisadane. “Kesempatan itu juga dimanfaatkan warga peranakan Cina yang pandai bertani, untuk mendiami lahan di sekitar Benteng. Begitulah kemudian sebutan Cina Benteng melekat pada peranakan Tionghoa di Tangerang, sampai hari ini.

Cisadane Moderen

Sumber Foto, Indonesia Travelnews

Pada masa kini, wilayah sekitar sungai Cisadane menjadi tempat favorit bagi kalangan muda untuk berkumpul, apalagi dimalam minggu. Hal ini terjadi, karena Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang menyiapkan tempat duduk dan lahan untuk bermain.

Selanjutnya Pemkot Tangerang biasanya mengadakan acara tahunan di sungai cisadane ini, yaitu Festival Cisadane. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan warisan budaya, sekaligus ajang promosi wisata Kota Tangerang.

Festival Cisadane biasanya akan disajikan dengan berbagai acara seperti perahu naga, lomba perahu hias, pagelaran budaya daerah, pameran pembangunan dan gelar karya UKM.

JHN/JHN

Article Bottom Ad